Menelisik Problematika MBG
Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program Presiden RI saat ini guna mengatasi permasalahan gizi dan stunting yang cukup tinggi di Indonesia. Namun, dalam implementasinya, program MBG masih menuai berbagai kritik, mulai dari aspek keamanan pangan hingga kualitas kandungan gizi yang diberikan. Kasus keracunan makanan serta penggunaan produk pangan olahan dengan kandungan gula tinggi menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan program dan realita di lapangan.
Jaminan Keamanan Pangan yang Masih Dipertanyakan
Dalam pelaksanaanya masih menimbulkan banyak kontra seperti keracunan pada anak yang mengkonsumsi MBG tersebut. Sejak MBG diluncurkan hingga 19 September 2025, program ini telah menyebabkan keracunan massal sebesar 5.626 di 17 provinsi di Indonesia. Prabowo mengungkapkan jika angka kegagalan (keracunan) itu hanya 0,0017%, ujar Prabowo (29/09/2025).
Meskipun dibawah 1%, keamanan penerima MBG (siswa) seharusnya tetap menjadi perhatian utama dalam jalannya program MBG. Menurut Tan Shot Yen (dokter dan ahli gizi), keterlibatan mitra atau yayasan dalam pelaksanaan program membuat jalur pertanggungjawaban menjadi tidak jelas sehingga terkesan Badan Gizi Nasional (BGN) lepas tangan ketika terjadi kasus keracunan, padahal proses monitoring, supervisi, dan evaluasi seharusnya tetap menjadi tanggung jawab BGN sebagai penyelenggara program. Program ini dibentuk untuk MENGURANGI STUNTING dan seharusnya TIDAK MENAMBAH KOMPLIKASI PENYAKIT LAIN
Standarisasi Gizi yang Tidak Sesuai
Sering dijumpai program MBG menggunakan susu kemasan dengan tujuan memenuhi kebutuhan gizi harian. Namun produk kemasan yang digunakan rata-rata memiliki kandungan gula yang tinggi, salah satu merk yang disorot mengandung 13 gram kandungan gula. Sedangkan menurut WHO, batas konsumsi gula normal bagi anak dan remaja adalah kurang dari 25 gram per hari.
Dari hasil wawancara kami dengan salah satu guru sekolah dasar di Surabaya, program MBG hingga saat ini masih menggunakan produk-produk susu kemasan dengan kandungan gizi sebagai berikut:
Karbohidrat: 13 g Karbohidrat: 12 g
Gula total: 12 g Gula total: 10 g
Energi: 90 kkal Energi: 80 kkal
Karbohidrat: 7 g Karbohidrat: 13 g
Gula total: 6 g Gula total: 11 g
Energi: 70 kkal Energi: 90 kkal
Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa produk susu kemasan yang digunakan dalam program MBG memiliki karakteristik yang relatif serupa, yaitu kandungan energi rendah–sedang (70–90 kkal), karbohidrat 7–13 g, dan gula total yang cukup tinggi (6–12 g per sajian). Jika satu produk mengandung 10–12 g gula, maka sudah memenuhi sekitar 40–50% dari batas konsumsi gula harian anak (≤25 g/hari). Jika anak mendapat tambahan gula dari makanan lain ketika di luar sekolah, maka sangat berisiko melebihi batas rekomendasi.
Tabel 1. Prevalensi Intoleransi Laktosa pada Anak (Asia Pacific journal of clinical nutrition)
Kelompok Usia | Rentang Usia | Prevalensi Lactose |
SD | 6 - 11 Tahun | 57,8 % |
SMP | 12 - 14 Tahun | 73% |
Temuan ini diperkuat oleh laporan dalam jurnal Clinical Nutrition ESPEN yang memperkirakan prevalensi intoleransi laktosa pada masyarakat Indonesia dapat mencapai hingga 90,6%. Artinya, mayoritas populasi memiliki keterbatasan dalam mencerna laktosa secara optimal. Dalam konteks ini, pemberian susu sebagai intervensi gizi massal tanpa mempertimbangkan kondisi toleransi individu bukan hanya tidak tepat sasaran, tetapi juga berpotensi memicu gangguan kesehatan pada penerima manfaat.
Dampak Terhadap Pertumbuhan Anak
Peningkatan risiko obesitas dan malnutrisi ganda
Studi oleh Magriplis et al. (2021) menunjukkan bahwa asupan gula berlebih berhubungan dengan peningkatan prevalensi obesitas pada anak dan remaja. Konsumsi minuman tinggi gula (sugar-sweetened beverages) berhubungan dengan peningkatan BMI, lemak tubuh, dan lingkar pinggang pada anak. Dampaknya, anak dapat mengalami malnutrisi ganda, yaitu kelebihan berat badan tetapi kekurangan zat gizi esensial.
Gangguan pertumbuhan fisik
Pertumbuhan optimal tidak hanya membutuhkan energi, tetapi juga protein dan mikronutrien. Asupan tinggi gula cenderung menggantikan makanan bergizi, sehingga kualitas diet menjadi rendah. Dalam jurnal Aumuller dkk (2020), menunjukkan bahwa asupan gula yang tinggi berhubungan dengan perubahan indikator antropometri (berat badan dan komposisi tubuh) pada anak usia dini
Dampak terhadap perkembangan otak dan kognitif
Penelitian Beecher (2021) menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif dan memori serta perubahan perilaku (hiperaktivitas) pada anak. Hal ini berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, gangguan memori dan potensi penurunan performa akademik.
Risiko gangguan metabolik sejak dini
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko kenaikan berat badan tidak sehat dan gangguan kardiometabolik pada anak. Dampak jangka panjangnya berupa resistensi insulin, diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Ini bertentangan dengan tujuan program MBG yang seharusnya meningkatkan kesehatan jangka panjang anak.
Kenapa Hal ini Terjadi?
Lemahnya sistem pengawasan dan kontrol mutu
Dalam pelaksanaan MBG, keterlibatan banyak pihak seperti BGN, mitra, yayasan, hingga penyedia katering membuat rantai distribusi menjadi panjang dan kompleks. Kondisi ini meningkatkan potensi terjadinya kesalahan pada setiap tahapan, mulai dari pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan. Tanpa sistem monitoring, supervisi, dan evaluasi yang ketat dan berkelanjutan, risiko kelalaian menjadi tinggi, yang pada akhirnya dapat memicu kasus keracunan pangan di lapangan.
Tidak adanya standarisasi gizi yang ketat
Program MBG belum memiliki acuan menu dan kandungan gizi yang seragam dan wajib diterapkan di seluruh wilayah. Akibatnya, pemilihan jenis makanan sangat bergantung pada masing-masing mitra atau penyedia, termasuk penggunaan produk susu kemasan dengan kandungan gula tinggi. Hal ini menyebabkan kualitas gizi yang diterima siswa menjadi tidak konsisten dan berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang anak.
Orientasi pada efisiensi biaya
Sebagai program berskala nasional dengan jumlah penerima yang besar, MBG menghadapi tekanan untuk menekan biaya operasional. Dalam praktiknya, hal ini dapat mendorong pemilihan bahan pangan yang lebih murah, mudah didistribusikan, dan memiliki daya simpan lama, seperti produk olahan tinggi gula. Namun, pilihan ini seringkali mengorbankan kualitas nutrisi, sehingga tujuan peningkatan status gizi anak tidak tercapai secara optimal.
Pendekatan yang tidak berbasis kebutuhan individu
Program MBG cenderung menggunakan pendekatan seragam (one-size-fits-all), tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan dan kebutuhan spesifik masing-masing anak. Padahal, terdapat variasi kondisi seperti intoleransi laktosa, alergi, maupun kebutuhan gizi khusus. Ketidaksesuaian ini dapat menyebabkan intervensi menjadi kurang efektif, bahkan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan baru pada sebagian anak.
Koordinasi dan pembagian tanggung jawab yang belum jelas
Keterlibatan berbagai pihak dalam pelaksanaan MBG tidak selalu diiringi dengan kejelasan peran dan tanggung jawab yang tegas. Hal ini berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan atau bahkan “lempar tanggung jawab” ketika terjadi masalah, seperti kasus keracunan. Padahal, dalam program kesehatan masyarakat, kejelasan struktur koordinasi dan akuntabilitas sangat penting untuk menjamin keberhasilan program.
Rekomendasi
Wajibkan standar keamanan pangan yang ketat dan terintegrasi
Pemerintah melalui BGN harus memastikan seluruh proses MBG menerapkan standar keamanan pangan seperti HACCP secara wajib, bukan sekadar anjuran. Pengawasan harus dilakukan secara berkala dan menyeluruh, disertai sistem pelaporan cepat dan sanksi tegas bagi pelanggaran untuk mencegah terulangnya kasus keracunan.
Tetapkan batas maksimal kandungan gula dalam menu MBG
Penggunaan produk pangan tinggi gula, khususnya susu kemasan, harus dibatasi secara tegas dengan mengacu pada rekomendasi WHO. Produk dengan kandungan gula tinggi tidak boleh menjadi menu rutin dan harus digantikan dengan alternatif yang lebih sehat dan bergizi seimbang.
Standarisasi menu nasional berbasis kebutuhan gizi anak
BGN harus menetapkan standar menu nasional yang wajib diterapkan di seluruh wilayah, dengan komposisi gizi yang seimbang (energi, protein, lemak, dan mikronutrien). Standarisasi ini penting untuk menghindari ketimpangan kualitas gizi antar daerah.
Lakukan skrining kesehatan sebelum pemberian intervensi
Setiap penerima MBG perlu melalui skrining awal terkait alergi dan intoleransi makanan. Program tidak boleh menggunakan pendekatan seragam, karena dapat menimbulkan dampak kesehatan pada kelompok tertentu, seperti anak dengan intoleransi laktosa.
Perjelas tanggung jawab dan akuntabilitas penyelenggara
BGN sebagai penyelenggara utama harus bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan MBG, termasuk pengawasan mitra. Diperlukan sistem koordinasi yang jelas serta mekanisme akuntabilitas yang tegas untuk mencegah terjadinya lempar tanggung jawab.
Prioritaskan kualitas gizi dibanding efisiensi biaya
Pemerintah harus memastikan bahwa efisiensi anggaran tidak mengorbankan kualitas makanan. Pengadaan bahan pangan harus berbasis nilai gizi, bukan sekadar harga murah dan kemudahan distribusi.
REFERENSI
Abbasalizad Farhangi, M., Mohammadi Tofigh, A., Jahangiri, L., Nikniaz, Z., & Nikniaz, L. (2022). Sugar-sweetened beverages intake and the risk of obesity in children: An updated systematic review and dose-response meta-analysis. Pediatric obesity, 17(8), e12914. https://doi.org/10.1111/ijpo.12914
Aumueller, N., Gruszfeld, D., Gradowska, K., Escribano, J., Ferré, N., Rousseaux, D., Hoyos, J., Verduci, E., ReDionigi, A., Koletzko, B., & Grote, V. (2020). Associations of sugar intake with anthropometrics in children from ages 2 until 8 years in the EU Childhood Obesity Project. European journal of nutrition, 59(6), 2593–2601. https://doi.org/10.1007/s00394-019-02107-0
BBC News Indonesia. (2025). Artikel tentang program makan bergizi gratis di Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cvg5eywd109o
Beecher K, Alvarez Cooper I, Wang J, Walters SB, Chehrehasa F, Bartlett SE and Belmer A (2021) Long-Term Overconsumption of Sugar Starting at Adolescence Produces Persistent Hyperactivity and Neurocognitive Deficits in Adulthood. Front. Neurosci. 15:670430. doi: 10.3389/fnins.2021.670430
CNN Indonesia. (2025). Makan gratis murid SD di Jaktim dapat susu dengan kadar gula 13 gram. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250110135732-20-1185790/makan-gratis-murid-sd-di-jaktim-dapat-susu-dengan-kadar-gula-13-gram
CNN Indonesia. (2025). Puncak gunung es keracunan MBG, saatnya evaluasi menyeluruh. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250925092447-20-1277505/puncak-gunung-es-keracunan-mbg-saatnya-evaluasi-menyeluruh
Dewiasty, E., Setiati, S., Agustina, R., Roosheroe, A. G., Abdullah, M., Istanti, R., & de Groot, L. C. P. G. M. (2021). Prevalence of lactose intolerance and nutrients intake in an older population regarded as lactase non-persistent. Clinical Nutrition ESPEN, 43, 317–321. https://doi.org/10.1016/j.clnesp.2021.03.033
Hegar, B., & Widodo, A. (2015). Lactose intolerance in Indonesian children. Asia Pacific journal of clinical nutrition, 24 Suppl 1, S31–S40. https://doi.org/10.6133/apjcn.2015.24.s1.06
Narasi. (2025). Susu kotak tinggi gula? Ini alternatif pengganti untuk makan bergizi gratis. https://narasi.tv/read/narasi-daily/susu-kotak-tinggi-gula-ini-alternatif-pengganti-untuk-makan-bergizi-gratis
World Health Organization. (2015). WHO calls on countries to reduce sugars intake among adults and children. https://www.who.int/news/item/04-03-2015-who-calls-on-countries-to-reduce-sugars-intake-among-adults-and-children
Yu, J., Ashraf, R., Mahajan, A., Hogan, J. L., Darlington, G., Buchholz, A. C., Duncan, A. M., Haines, J., Ma, D. W. L., & Guelph Family Health Study (2023). Dietary Sugar Research in Preschoolers: Methodological, Genetic, and Cardiometabolic Considerations. Reviews in cardiovascular medicine, 24(9), 259. https://doi.org/10.31083/j.rcm2409259